Aksi Teror Terhadap Kepolisian, Peneliti CAF: Sikapi dengan Adil dan Proporsional
![]() |
| M.A Azzam Peneliti CAF |
KABARNASIONAL, YOGYAKARTA - Aksi teror yang mengarah kepada aparatur kepolisian terulang kembali. Kali ini, teror berupa penikaman terhadap anggota brimob terjadi di dekat Mabes Polri pada Jumat (30/6/2017) sekitar pukul 19.30 WIB.
Peristiwa terjadi setelah pelaksanaan shalat Isya di Masjid Falatehan, Jalan Sunan Kali Jaga, Jakarta Selatan. Saat itu terjadi penusukan terhada AKP Dede dan Briptu Saiful Bahri dari kesatuan Sat BrimobMabes Polri.
Kasus ini memperpanjang kasus sebelumnya yang terjadi di kampung melayu sebulan lalu. Ketika itu, terjadi ledakan bom di Toilet Terminal Kp. Melayu dan menewaskan kurang lebih 3 orang polisi dan 10 orang lainnya. Begitu juga, kasus berikutnya penangkapan terduga teroris di Bima, NTB 19 Juni 2017. Lalu, aksi teror di Medan, Sumatera Utara 25 Juni 2017.
Menaggapi peristiwa tersebut, Peneliti di Civilizatioan Analysis Forum (CAF), Muhammad Alauddin Azzam mengatakan bahwa masyarakat harus jeli dan teliti terhadap aksi teror, serta bersikap adil.
"Aksi teror musti dipandang adil dan proporsional, maksudnya adalah tidak bisa sebuah kasus-kasus aksi teror kemudian langsung disikapi secara latah dan gegabah dengan mengaitkan dengan ajaran tertentu," ucapnya kepada KABARNASIONAL, Sabtu (01/7/2017).
Menurutnya, sikap adil dan proporsional adalah dengan melihat aksi teror sebagai musuh bersama. Selain itu, aksi teror juga harus di sematkan kepada gerakan-gerakan yang nyata membuat potensi makar, seperti keinginan kelompok-kelompok tertentu untuk merdeka dari wilayah Indonesia.
"Sebab, bila tidak bersikap adil dan proposional terhadap aksi teror, saya tidak tahu bila rakyat nanti memandang bahwa aksi teror selama ini akhirnya hanya menjadi bahan legitimasi untuk menstigmatisasi dan mengkriminalisasi salah satu atau banyak pihak. Mungkin saja.", pungkasnya. (lsh)

Post a Comment